Termasuk daripada Wasiat Syaikh Muhammad Al-Hafiz Al-Tijani Al-Mishri
قَالَ سَيِّدُنَا الشَّيْخُ مُحَمَّدُ الْحَافِظُ التِّجَانِيُّ الْمِصْرِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: وَصِيَّتِي لِنَفْسِي وَلِإِخْوَانِي وَلِمَنْ أُحِبُّ إِخْلَاصَ الْعُبُودِيَّةِ لِلْحَقِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ تَمْحِيصَ الْعُبُودِيَّةِ لِلهِ هُوَ الْوِلَايَةُ الْحَقَّةُ، وَمَا دَامَ بِقَلْبِكَ حُبٌّ لِظُهُورِ كَرَامَتِكَ فَهُوَ عِلَّةٌ، وَكُلُّ عِلَّةٍ أَقَلُّ مَا فِيهَا الْقَطِيعَةُ عَنْ جَنَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
Tuanku Syekh Muhammad al-Hafiz al-Tijani al-Misri—semoga Allah meridainya—berkata: Wasiatku untuk diriku sendiri, saudara-saudaraku, dan orang-orang yang kucintai mengenai keikhlasan dalam penghambaan kepada Al-Haq (Allah) Tabaraka wa Ta’ala adalah: Hendaknya ia menyadari bahwa memurnikan penghambaan hanya kepada Allah merupakan kewalian yang sejati (Al-Wilayah al-Haqqah). Selama di dalam hatimu masih ada keinginan agar karamahmu tampak di mata manusia, maka itu adalah sebuah penyakit ('illah). Dan setiap penyakit batin, dampak paling ringannya adalah terputusnya hubungan (hijab) dari hadirat Allah 'Azza wa Jalla.
فَاخْرُجْ مِنَ الْأَكْوَانِ إِلَى الْمُكَوِّنِ، وَانْتَقِلْ مِنَ الْحَادِثِ إِلَى الْقَدِيمِ، وَأَسْلِمْ نَفْسَكَ لِلهِ يَفْعَلُ بِكَ مَا يَشَاءُ وَمَيِّزِ الْحَقَّ مِنَ الْبَاطِلِ، وَاعْلَمْ أَنَّ إِسْلَامَكَ نَفْسَكَ إِمَّا أَنْ يَكُونَ لِلهِ فَتَكُونَ أَسْلَمْتَ نَفْسَكَ لِلهِ حَقًّا، وَإِلَّا فَقَدْ أَسْلَمْتَ نَفْسَكَ لِنَفْسِكَ
Maka keluarlah dari alam semesta (al-akwan) menuju Sang Pencipta alam (al-mukawwin), berpindahlah dari segala yang baru/fana (al-hadits) menuju Yang Maha Awal/Abadi (al-qadim). Pasrahkanlah dirimu sepenuhnya kepada Allah agar Dia berbuat padamu sekehendak-Nya, dan bedakanlah antara kebenaran dan kebatilan. Ketahuilah bahwa penyerahan dirimu itu, jika diniatkan karena Allah, maka engkau benar-benar telah berserah diri kepada Allah secara hakiki. Namun jika tidak, maka sesungguhnya engkau hanyalah menyerahkan dirimu kepada hawa nafsumu sendiri.
وَاعْلَمْ أَنَّ الْحَقَّ إِذَا خَلَقَ فِيكَ الطَّاعَةَ فَقَدْ خَلَقَ فِيكَ الِاسْتِسْلَامَ لَهُ، وَإِنْ خَلَقَ فِيكَ الْمَعْصِيَةَ فَقَدْ خَلَقَ فِيكَ الِاسْتِسْلَامَ لِنَفْسِكَ وَلِلهِ الْحُجَّةُ عَلَيْكَ، فَمَا أَجْرَى عَلَى يَدَيْكَ إِلَّا مَا تَسْتَحِقُّ أَنْ يُخْلَقَ لَكَ وَلِلهِ الْمِنَّةُ فِي كُلِّ ذَلِكَ
Ketahuilah bahwa jika Al-Haq (Allah) menciptakan ketaatan di dalam dirimu, maka sesungguhnya Dia telah menciptakan rasa berserah diri kepada-Nya. Namun jika Dia menciptakan kemaksiatan di dalam dirimu, maka sesungguhnya Dia telah menciptakan rasa berserah diri kepada nafsumu, dan Allah tetap memiliki hujah (alasan yang kuat) atasmu. Tidaklah Allah mengalirkan sesuatu melalui tanganmu (perbuatanmu) kecuali apa yang memang layak diciptakan untukmu, dan bagi Allah-lah segala anugerah dalam semua ketetapan itu.
فَقَدْ سَتَرَكَ فِي الْمَعْصِيَةِ لِتُشَاهِدَ بِرَّهُ فِي السَّتْرِ، وَأَمْهَلَكَ لِتُشَاهِدَ حِلْمَهُ فِي الْإِمْهَالِ، وَأَيْقَظَ هِمَّتَكَ لِلتَّوْبَةِ لِتُشَاهِدَ كَرَمَهُ الْفَيَّاضَ فِي دَلَالَتِكَ عَلَيْهِ، وَيَقْبَلُهَا مِنْكَ ثُمَّ يُجَازِيكَ عَلَيْهَا حَتَّى كَأَنَّهَا صَدَرَتْ عَنْكَ
Sebab, Dia telah menutup aibmu saat bermaksiat agar engkau menyaksikan kebaikan-Nya dalam menutupi dosa. Dia menangguhkan siksa-Nya agar engkau menyaksikan kelembutan-Nya (hilm) dalam memberi tempo. Dia membangkitkan tekadmu untuk bertobat agar engkau menyaksikan kemurahan-Nya yang melimpah dalam membimbingmu kembali kepada-Nya. Dia menerima tobatmu, kemudian memberimu balasan pahala atasnya, seolah-olah tobat itu murni berasal dari usahamu sendiri (padahal itu taufik-Nya).
فَإِذَا كَانَتْ هَذِهِ بَعْضَ النِّعَمِ عَلَيْكَ فِي الْمَعْصِيَةِ وَهِيَ لَا تُقَدَّرُ، فَمَا بَالُكَ بِنِعَمِهِ عَلَيْكَ سُبْحَانَهُ فِي الطَّاعَةِ وَغَيْرِهَا، فَضَعِ النِّعَمَ فِي مَوَاضِعِهَا فَهِيَ أَمَانَةٌ لِلهِ عِنْدَكَ، وَكَانَ الْأَحْرَى بِكَ أَنْ تَلْتَمِسَ أَعْضَاءً غَيْرَ الَّتِي خَلَقَهَا لَكَ الْحَقُّ لِتَعْصِيَهُ بِهَا، فَلَيْسَ مِنَ الْمُرُوءَةِ أَنْ تَسْتَعْمِلَ نِعْمَتَهُ فِي مَا لَا يُرْضِيهِ
Jika ini baru sebagian dari nikmat-nikmat-Nya bagimu saat engkau bermaksiat—yang nilainya tak terhingga—maka bayangkanlah betapa agung nikmat-Nya bagimu dalam ketaatan dan kondisi lainnya. Maka letakkanlah nikmat-nikmat tersebut pada tempatnya, karena itu adalah amanah Allah di tanganmu. Seharusnya engkau merasa malu (sehingga engkau perlu) mencari anggota tubuh lain yang bukan ciptaan Allah jika ingin digunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Sebab, bukanlah termasuk keksatriaan (muru'ah) jika engkau menggunakan nikmat-Nya untuk melakukan hal-hal yang tidak diridai-Nya.
Komentar
Posting Komentar