Berprasangka Baik Kepada Allah Tabaraka Wa Ta'ala
كَانَ لِسَيِّدِي الْحَبِيْبِ عَلِيٍّ الْحَبَشِيِّ تَلَامِيْذٌ، وَكَانَ مِنْ بَيْنِهِمْ تِلْمِيْذٌ يَظُنُّ أَنَّ إِخْوَانَهُ وَصَلُوا لِدَرَجَاتٍ فِي مَعْرِفَةِ اللّٰهِ وَتَرَقَّوْا فِي مَرَاتِبِ الْعُبُودِيَّةِ وَتَمَّتْ لَهُمُ الصِّلَةُ وَالْبَرَكَةُ، وَهُوَ رَغْمَ عِبَادَتِهِ وَطَلَبِهِ وَتَعَلُّمِهِ وَحِرْصِهِ لَمْ يَنَلْ مِثْلَمَا نَالُوا.. كَانَ يَظُنُّ هٰكَذَا
Al-Habib Ali al-Habsyi memiliki banyak murid. Di antara mereka ada seorang murid yang menyangka bahwa teman-temannya telah mencapai derajat tinggi dalam mengenal Allah, naik ke tingkatan penghambaan yang luhur, serta telah meraih hubungan batin dan keberkahan yang sempurna. Sementara ia, meski telah beribadah, menuntut ilmu, dan bersungguh-sungguh, merasa belum mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Begitulah persangkaan yang ada dalam dirinya.
فَذَهَبَ مِنْ مَجْلِسِ شَيْخِهِ فِي أَحَدِ الْأَيَّامِ مَهْمُوْمًا مَحْزُوْنًا وَرَاحَ يَتَضَرَّعُ إِلَى اللّٰهِ وَأَلَّفَ بَيْتَ شِعْرٍ كَانَ يَبْتَهِلُ وَيَلْجَأُ وَيَتَضَرَّعُ وَيُنَاجِي بِهِ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ. وَكَانَ بَيْتُ الشِّعْرِ: "كُلُّ الَّذِي يَرْجُوْنَ فَضْلَكَ أُمْطِرُوا... مَا كَانَ بَرْقُكَ خُلَّبًا إِلَّا مَعِي"
Suatu hari, ia meninggalkan majelis gurunya dengan perasaan gundah dan sedih. Ia pun bersimpuh memohon kepada Allah dan menggubah sebait syair untuk meratap, berlindung, dan mengadu kepada-Nya di malam itu. Bunyi bait syair tersebut adalah: "Semua orang yang mengharap karunia-Mu telah dihujani (rahmat), namun kilat-Mu tidak pernah menjadi fatamorgana tanpa hujan kecuali saat bersamaku."
وَمَعْنَى بَيْتِ الشِّعْرِ هٰذَا: (يَعْنِي يَا رَبِّ كُلُّ الَّذِيْنَ طَلَبُوا وَتَقَرَّبُوا وَطَرَقُوا بَابَكَ أَعْطَيْتَهُمْ مِنْ فَضْلِكَ وَقَرَّبْتَهُمْ وَوَصَّلْتَهُمْ... وَالْبَرْقُ الْخُلَّبُ هُوَ الْبَرْقُ الَّذِي لَا يَصْحَبُهُ مَطَرٌ وَغَيْثٌ.. وَكَانَ يَقْصِدُ بِهِ: يَا رَبِّ إِلَّا أَنَا الَّذِي رَجَوْتُكَ وَطَلَبْتُكَ وَتَقَرَّبْتُ وَلَمْ تَسْمَحْ لِي، كَأَنَّهُ يَقُوْلُ كُلُّ النَّاسِ أَغَثْتَهُمْ بِمِيَاهِ وَصْلِكَ وَبِغِيَاثِ قُرْبِكَ، إِلَّا أَنَا الَّذِي وَجَدَ الْبَرْقَ فِي السَّمَاءِ وَلَمْ يَجِدِ الْمَاءَ وَلَا الْغِيَاثَ)
Makna dari bait syair ini adalah: (Wahai Tuhanku, setiap orang yang meminta, mendekat, dan mengetuk pintu-Mu telah Engkau beri karunia-Mu, Engkau dekatkan, dan Engkau sampaikan pada maksud mereka. "Al-Barqu al-Khullab" adalah kilat yang tidak disertai hujan dan pertolongan. Ia bermaksud berkata: Wahai Tuhanku, kecuali aku yang telah mengharap, meminta, dan mendekat kepada-Mu namun Engkau belum mengizinkanku. Seolah-olah ia berkata: Semua orang telah Engkau beri pertolongan dengan air perjumpaan-Mu dan siraman kedekatan-Mu, kecuali aku yang hanya melihat kilat di langit namun tidak menemukan air maupun pertolongan-Mu).
فَذَهَبَ فِي الصَّبَاحِ لِشَيْخِهِ وَقَصَّ عَلَيْهِ مَا حَدَثَ وَقَالَ لَهُ بَيْتَ الشِّعْرِ الَّذِي أَلَّفَهُ وَكَانَ يُنَاجِي بِهِ، فَرَدَّ عَلَيْهِ الشَّيْخُ قَائِلًا: يَا وَلَدِي مَا يُخَاطَبُ رَبُّنَا هٰكَذَا.. اكْتُبْ خَلْفِي. وَرَاحَ ارْتَجَلَ قَصِيْدَةً فِيْهَا مِنَ الْمَدَدِ مَا فِيْهَا. الْقَصِيْدَةُ ١٢ بَيْتًا، الشَّيْخُ أَتَى بِبَيْتٍ هُوَ نَفْسُ بَيْتِ تِلْمِيْذِهِ وَلٰكِنْ عَكَسَ الْمَعْنَى وَكَأَنَّهُ رَدٌّ عَلَى تِلْمِيْذِهِ. وَبَيْتُ الشَّيْخِ تَرْتِيْبُهُ الْعَاشِرُ فِي الْقَصِيْدَةِ وَيَقُوْلُ: "كُلُّ الَّذِي يَرْجُوْنَ فَضْلَكَ أُمْطِرُوا... حَاشَاكَ أَنْ يَبْقَى هَشِيْمًا مَرْبَعِي"
Esok harinya ia menemui gurunya dan menceritakan apa yang terjadi, serta membacakan bait syair yang ia gubah untuk mengadu kepada Allah. Sang guru merespons dengan berkata: "Wahai anakku, Tuhan kita tidak boleh disapa dengan cara seperti itu. Tulislah apa yang aku ucapkan." Sang guru pun menggubah qasidah secara spontan yang penuh dengan limpahan spiritual. Qasidah tersebut terdiri dari 12 bait, sang guru mencantumkan satu bait yang sama dengan bait muridnya namun membalik maknanya sebagai jawaban untuknya. Bait tersebut berada pada urutan ke-10 yang berbunyi: "Semua orang yang mengharap karunia-Mu telah dihujani (rahmat), mustahil bagi-Mu membiarkan tempat tinggalku tetap kering kerontang."
وَمَعْنَى بَيْتِ الشَّيْخِ هٰذَا: (يَا رَبِّ كُلُّ مَنْ تَقَرَّبَ مِنْكَ وَطَلَبَكَ وَأَرَادَكَ لَبَّيْتَ طَلَبَهُ وَوَصَّلْتَهُ وَقَرَّبْتَهُ.. فَحَاشَاكَ يَا رَبِّ أَنْ تَقْطَعَنِي وَلَا تُوَصِّلَنِي، وَحَاشَاكَ أَنْ يَبْقَى هَشِيْمًا مَرْبَعِي.. أَيْ حَاشَاكَ يَا رَبِّ أَنْ تَبْقَى أَرْضِي جَافَّةً لَا يَنْزِلُ بِهَا مَطَرُ وَصْلِكَ وَغِيَاثُ مَدَدِكَ)
Makna dari bait sang guru ini adalah: (Wahai Tuhanku, setiap orang yang mendekat, meminta, dan menginginkan-Mu telah Engkau penuhi permintaannya, Engkau sampaikan maksudnya, dan Engkau dekatkan. Maka mustahil bagi-Mu wahai Tuhanku untuk memutus hubunganku dan tidak menyampaikanku pada maksudku. Mustahil bagi-Mu membiarkan tempat tinggalku menjadi hancur kering kerontang. Yakni: Mustahil bagi-Mu membiarkan batinku tetap gersang tanpa turunnya hujan perjumpaan-Mu dan bantuan pertolongan-Mu).
يَا نَفْسُ إِنْ لَمْ تَظْفَرِي لَا تَجْزَعِي *** وَإِلَى مَوَائِدِ جُوْدِ مَوْلَاكِ اهْرَعِي
(Wahai jiwa, jika engkau belum beruntung (meraih maksud), janganlah berputus asa; dan segeralah menuju hidangan kedermawanan Tuanmu).
وَإِذَا تَأَخَّرَ مَطْلَبٌ فَلَرُبَّمَا *** فِي ذٰلِكَ التَّأْخِيْرِ كُلُّ الْمَطْمَعِ
(Jika suatu keinginan tertunda, maka barangkali di dalam penundaan itu terdapat hal yang sangat didambakan).
وَاسْتَأْنِسِي بِالْمَنْعِ وَارْعِي حَقَّهُ *** إِنَّ الرِّضَى وَصْفُ الْمُنِيْبِ الْأَلْمَعِ
(Carilah kenyamanan di dalam "penolakan" Tuhan dan jagalah hak-hak-Nya; sesungguhnya rida adalah sifat orang yang kembali kepada Tuhan dengan kecerdasan batin).
وَإِذَا بَدَا مِنْ نَاطِقِ الْوِجْدَانِ مَا *** يَدْعُوْكِ لِلْيَأْسِ الذَّمِيْمِ الْأَشْنَعِ
(Jika muncul dari suara hatimu sesuatu yang mengajakmu pada keputusasaan yang tercela dan buruk).
فَاسْتَيْقِظِي مِنْ نَوْمَةِ الْغَفَلَاتِ وَلْـ *** يَكُنِ الرَّجَا لَكِ مَرْتَعًا فِيْهِ ارْتَعِي
(Maka bangunlah dari tidur kelalaian, dan jadikanlah "harap" (raja') sebagai taman tempatmu bernaung).
إِنَّ الْعَطَا إِمْدَادُهُ مُتَنَوِّعٌ *** يَا حُسْنَهُ ذَاكَ الْعَطَا الْمُتَنَوِّعُ
(Sesungguhnya pemberian Tuhan itu beragam bentuknya; alangkah indahnya pemberian yang beraneka ragam itu).
وَرَدُوا عَلَى نَهْرِ الْحَيَاةِ وَكُلُّهُمْ *** شَرِبُوا وَكَمْ فِي الرَّكْبِ مِنْ مُتَضَلِّعِ
(Mereka telah tiba di sungai kehidupan, semuanya telah minum; dan betapa banyak di dalam rombongan itu yang telah minum hingga kenyang).
حَاشَا الْكَرِيْمَ يَرُدَّهُمْ عَطْشَى وَقَدْ *** وَرَدُوا وَأَصْلُ الْجُوْدِ مِنْ ذَا الْمَنْبَعِ
(Mustahil Zat Yang Maha Pemurah menolak mereka dalam keadaan haus, padahal mereka telah tiba, dan sumber kedermawanan berasal dari pancuran ini).
يَا رَبِّ لِي ظَنٌّ جَمِيْلٌ وَافِرٌ *** قَدَّمْتُهُ أَمْشِي بِهِ يَسْعَى مَعِي
(Wahai Tuhanku, aku memiliki prasangka baik yang luas; telah kuhadirkan prasangka itu, aku berjalan dengannya dan ia pun menyertaiku).
كُلُّ الَّذِي يَرْجُوْنَ فَضْلَكَ أُمْطِرُوا *** حَاشَاكَ أَنْ يَبْقَى هَشِيْمًا مَرْبَعِي
(Semua yang mengharap karunia-Mu telah dihujani rahmat; mustahil bagi-Mu membiarkan tempatku tetap kering kerontang).
ثُمَّ الصَّلَاةُ عَلَى الْحَبِيْبِ مُحَمَّدٍ *** سَبَبِي الْقَوِيُّ إِلَى الْمَقَامِ الْأَرْفَعِ
(Kemudian shalawat atas kekasih kami, Muhammad; dialah sebabku yang kuat untuk mencapai kedudukan yang paling tinggi).
هُوَ عِصْمَتِي هُوَ عُرْوَتِي فَاسْتَمْسِكِي *** يَا نَفْسُ بِالْمَجْدِ الْعَظِيْمِ الْأَمْنَعِ
(Beliau adalah pelindungku, beliau adalah peganganku; maka wahai jiwa, berpegangteguhlah pada kemuliaan yang agung dan kokoh).
Komentar
Posting Komentar