Faedah pelajaran ke-15 dari kitab Al-Islam wa Mushkilat al-Syabab karya Syekh Muhammad Said Ramadan al-Buthi
١٥- فَوَائِدُ مِنْ دَرْسِ: عِلَاجِ مُشْكِلَةِ تَنَاقُضَاتِ الْمَنْزِلِ وَمَا قَدْ يَتْبَعُهَا مِنْ خُصُوْمَاتٍ. خُلَاصَةٌ لِلدَّرْسِ الْخَامِسَ عَشَرَ مِنْ كِتَابِ «الْإِسْلَامُ وَمُشْكِلَاتُ الشَّبَابِ» لِلشَّيْخِ مُحَمَّد سَعِيْد بْن رَمَضَان الْبُوْطِي رَحِمَهُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى. شَرْحُ الْحَبِيْبِ عُمَر بْن مُحَمَّد بْن حَفِيْظ حَفِظَهُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.
15- Faedah dari pelajaran: Mengobati masalah kontradiksi di rumah dan dampak perselisihan yang mungkin mengikutinya. Ringkasan pelajaran ke-15 dari kitab Al-Islam wa Mushkilat al-Syabab karya Syekh Muhammad Said Ramadan al-Buthi —semoga Allah Tabaraka Wa Ta'ala merahmati beliau— yang disyarah oleh Al-Habib Umar bin Muhammad bin Hafidz —semoga Allah Tabaraka Wa Ta'ala menjaga beliau—.
١- أَكْثَرُ الْمُشْكِلَاتِ الَّتِي تَكُوْنُ فِي الْبُيُوْتِ بَيْنَ الشَّابِّ الْمُسْلِمِ وَأَهْلِهِ الْمُتَهَاوِنِيْنَ أَوْ الْمُخَاصِمِيْنَ لِلدِّيْنِ تَقُوْمُ عَلَى التَّنَاقُضَاتِ، وَأَنَّ الْحَلَّ فِيْهَا هُوَ اسْتِعْمَالُ أُسْلُوْبِ الْحِكْمَةِ وَالرِّفْقِ وَاللِّيْنِ وَالصَّبْرِ وَالْمُحَاوَلَةِ الْمُتَأَنِّيَةِ وَغَيْرِ ذٰلِكَ مِنَ الْأَسَالِيْبِ الْحَسَنَةِ.
1. Kebanyakan masalah yang terjadi di rumah-rumah antara pemuda Muslim dan keluarganya yang lalai atau memusuhi agama berakar pada kontradiksi (perbedaan nilai). Solusinya adalah dengan menggunakan pendekatan hikmah, kelembutan, keramahan, kesabaran, upaya yang terencana (perlahan/tidak terburu-buru), serta metode-metode baik lainnya.
٢- سِيَاسَةُ (اللَّا عُنْفِ) الَّتِي اسْتَخْدَمَهَا غَانْدِي فِي الْهِنْدِ وَغَيْرُ ذٰلِكَ مِنَ الْمُصْطَلَحَاتِ الَّتِي كَانَتْ لَهَا التَّجْرِبَةُ النَّاجِحَةُ فِي الْإِصْلَاحِ وَالتَّقْرِيْبِ وَالتَّحْبِيْبِ لَيْسَ سِرُّ نَجَاحِهَا وَخَيْرِهَا وَفَائِدَتِهَا كَوْنَهَا فِكْرَ بَشَرٍ مُسْتَحْدَثٍ، وَلٰكِنَّ سِرَّ النَّجَاحِ فِيْهَا هُوَ كَوْنُ هٰذِهِ السِّيَاسَةِ فِي التَّفْكِيْرِ الَّذِي بَرَزَ بِالشَّكْلِ الْبَشَرِيِّ أَصْلُهَا سُنَنٌ كَرِيْمَةٌ تَوَافَقَ التَّفْكِيْرُ مَعَهَا، فَلِذَا كَانَ لَهَا هٰذَا التَّأْثِيْرُ الْإِيْجَابِيُّ، وَلَوْ اقْتَرَنَتْ هٰذِهِ السِّيَاسَةُ مَعَ الْإِيْمَانِ أَيْ كَانَتْ مِنْ شَخْصٍ مُؤْمِنٍ لَكَانَ النَّجَاحُ وَالنَّتِيْجَةُ وَالْأَثَرُ أَكْبَرَ وَأَوْسَعَ.
2. Kebijakan "Anti-Kekerasan" (Non-violence) yang digunakan Gandhi di India dan istilah-istilah lain yang memiliki rekam jejak sukses dalam perbaikan, pendekatan, dan penumbuhan rasa cinta; rahasia keberhasilan dan manfaatnya bukanlah karena ia merupakan pemikiran manusia yang baru. Melainkan, rahasia suksesnya adalah karena kebijakan berpikir yang muncul dalam bentuk manusiawi tersebut pada dasarnya bersumber dari sunnah-sunnah (hukum alam spiritual) yang mulia yang selaras dengan pola pikir tersebut. Oleh karena itu, ia memiliki dampak positif. Seandainya kebijakan ini dibarengi dengan iman—yakni dilakukan oleh seorang mukmin—niscaya kesuksesan, hasil, dan dampaknya akan jauh lebih besar dan luas.
٣- حَالَةُ النَّاسِ عِنْدَمَا يُعْرَضُ عَلَيْهِمْ أَمْرٌ أَوْ نَهْيٌ أَوْ دَعْوَةٌ إِلَى خَيْرٍ أَوْ سُلُوْكُ مَنْهَجٍ مُعَيَّنٍ أَوْ تَرْكُ مُحَرَّمٍ أَوْ عِنْدَ سَمَاعِ الْحَقِّ وَمَا إِلَى ذٰلِكَ فَرِيْقَانِ: الْفَرِيْقُ الْأَوَّلُ: يَخْضَعُ نَفْسَهُ لِلتَّأَمُّلِ وَالنَّظَرِ وَالْبَحْثِ وَالنِّقَاشِ وَيُعْطِي وَيَأْخُذُ مَعَ الطَّرَفِ الثَّانِي... فَهٰذَا تُطْرَقُ مَعَهُ سَبِيْلُ التَّعْلِيْمِ وَالتَّوْضِيْحِ وَالْبَيَانِ وَإِيْرَادِ الْحُجَّةِ وَالدَّلِيْلِ. الْفَرِيْقُ الثَّانِي: لَا يَقْبَلُ وَلَا يَخْضَعُ نَفْسَهُ لِلتَّأَمُّلِ وَالنَّظَرِ... فَهٰذَا الْفَرِيْقُ مَا هُنَاكَ مِنْ سَبِيْلٍ إِلَّا أَنْ تُخَاطِبَهُمْ بِسُلُوْكِكَ بِخُلُقِكَ بِمُعَامَلَتِكَ فَتَظَلُّ بَيْنَهُمْ صَامِتًا وَتَجْعَلُ أَخْلَاقَكَ وَمُعَامَلَتَكَ هِيَ الَّتِي تَتَكَلَّمُ.
3. Kondisi manusia ketika dihadapkan pada perintah, larangan, ajakan kebaikan, atau saat mendengar kebenaran terbagi menjadi dua kelompok: Kelompok Pertama: Mereka yang menundukkan dirinya untuk merenung, meneliti, dan berdiskusi (dialog dua arah). Biasanya ini terjadi di antara sesama atau orang yang mengutamakan akal; maka metodenya adalah pengajaran, penjelasan, serta penyampaian argumen dan dalil. Kelompok Kedua: Mereka yang tidak menerima dan tidak mau merenung, bahkan mungkin merasa dirinya lebih baik. Kelompok ini tidak ada jalan lain kecuali berkomunikasi melalui perilaku, akhlak, dan muamalahmu; engkau tetap diam di antara mereka dan biarkan akhlakmu yang "berbicara".
٤- التَّنَاقُضَاتُ الْمَوْجُوْدَةُ دَاخِلَ الْبُيُوْتِ إِذَا أَرَادَ الْمُسْلِمُ تَجَاوُزَهَا فَعَلَيْهِ الْعَمَلُ بِمَا يَلِي: ١. الِاسْتِمْرَارُ فِي اسْتِخْدَامِ الْأَسَالِيْبِ الْحَسَنَةِ... وَأَنْ يَتَعَمَّدَ الِاخْتِلَاطَ بِهِمْ وَمُجَالَسَتَهُمْ مَا دَامَ يَرَى بِذٰلِكَ حُصُوْلَ الْفَائِدَةِ. ٢. أَنْ لَا يُشَارِكَهُمْ فِي مَا كَانَ مِنْ سُوْءٍ. ٣. إِذَا لَاحَظَ أَنَّ الْغَالِبَ عَلَى وَاقِعِهِمُ السُّوْءُ... عَلَيْهِ أَنْ يَجْعَلَ الْخُلْطَةَ بِهِمْ مَحْصُوْرَةً عَلَى الضَّرُوْرَاتِ... وَمَا عَدَا ذٰلِكَ فَيَبْقَى مُسْتَقِلًّا فِي مَسَارِهِ وَفِي مَكَانِهِ وَفِي أَعْمَالِهِ.
4. Jika seorang Muslim ingin melewati kontradiksi di dalam rumah, hendaknya ia melakukan: 1. Terus menggunakan cara-cara baik dan akhlak mulia (hormat, khidmah, kerjasama) serta tetap bergaul selama melihat ada manfaatnya. 2. Tidak ikut serta dalam keburukan mereka. 3. Jika keburukan sudah mendominasi dan dirasa membawa pengaruh negatif tanpa ada manfaat dalam pergaulan, maka hendaknya interaksi dibatasi hanya pada hal-hal darurat dan pokok (seperti makan bersama atau bersalaman dengan orang tua di pagi hari), selebihnya ia tetap mandiri dalam jalur, tempat, dan aktivitasnya.
Komentar
Posting Komentar