Langsung ke konten utama

Apakah Sebab-Sebab yang Menjadikan Jiwa Seorang Mukmin Terbiasa dalam Meninggalkan Maksiat?

Faedah dari Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz

​مَا هِيَ الْأَسْبَابُ الَّتِي تَجْعَلُ نَفْسَ الْمُؤْمِنِ مُوَطَّنَةً عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي؟

​"Apakah sebab-sebab yang menjadikan jiwa seorang mukmin terbiasa (kokoh) dalam meninggalkan kemaksiatan?"

​تَتَوَطَّنُ نَفْسُ الْمُؤْمِنِ عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي بِاتِّخَاذِ الْقَرَارِ مَعَ صِدْقِ الْفِرَارِ . فَفِرُّوا إِلَى اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.   ... وَتَحْصِيلُ ذٰلِكَ يَكُوْنُ بِمَا يَلِي:

​"Jiwa seorang mukmin menjadi terbiasa meninggalkan maksiat dengan mengambil keputusan yang tegas disertai kejujuran dalam 'melarikan diri' (menuju Tuhan), sebagaimana firman-Nya: {Maka segeralah kembali/berlari kepada Allah Tabaraka Wa Ta'ala}. Pencapaian hal tersebut dilakukan melalui hal-hal berikut:"

Langkah-Langkah Praktis Penjagaan Diri

​١- بِاسْتِحْضَارِ شُؤْمِ الذَّنْبِ وَمَضَرَّتِهِ وَمَعَرَّتِهِ وَسُوءِ عَاقِبَتِهِ وَقَبَاحَةِ مَصِيْرِهِ وَنِهَايَتِهِ.

1. Menghadirkan (visualisasi) dampak buruk dosa: Yaitu dengan menyadari kesialan akibat dosa, bahayanya, kehinaannya, buruknya konsekuensi, serta kejinya tempat kembali dan akhir dari dosa tersebut.

​٢- الْبُعْدُ عَنْ أَهْلِ الذُّنُوبِ وَعَنِ الِاسْتِمَاعِ إِلَى أَقَاوِيْلِهِمْ.

2. Menjauhi pelaku maksiat: Menjauhkan diri dari orang-orang yang gemar berbuat dosa serta menghindari mendengarkan ucapan-ucapan (perkataan sia-sia) mereka.

​٣- اسْتِعْمَالُ الِاعْتِدَالِ فِي الْمَأْكُولِ وَالْمَشْرُوبِ وَالْمَلْبُوسِ، فَتَعْتَدِلُ فِي أَكْلِكَ وَشُرْبِكَ وَلِبَاسِكَ وَتَبْتَعِدُ عَنِ الشَّبَعِ وَالْإِسْرَافِ.

3. Menerapkan pola hidup moderat: Bersikap proporsional dalam hal makanan, minuman, dan pakaian; yaitu dengan bersahaja dalam makan, minum, dan berpakaian, serta menjauhi rasa kenyang yang berlebihan dan sifat boros (israf).

Prinsip Empat Penjagaan (Arba'un min Arba')

​وَكَانُوْا يَذْكُرُوْنَ أَنَّ الْحِفْظَ مِنَ الْمَعَاصِي يَكُوْنُ بِحِفْظِ أَرْبَعَةٍ مِنْ أَرْبَعٍ:

​"(Para ulama terdahulu) menyebutkan bahwa penjagaan diri dari maksiat dilakukan dengan menjaga empat hal dari empat perkara:"

حِفْظِ الْبَطْنِ مِنَ الشَّبَعِ
Menjaga perut dari rasa kenyang berlebihan
​حِفْظِ الْعَيْنِ مِنَ النَّظَرِ
Menjaga mata dari pandangan yang tidak halal
​حِفْظِ اللِّسَانِ مِنَ الْكَلَامِ
Menjaga lisan dari perkataan yang sia-sia
​حِفْظِ الْقَلْبِ مِنَ الْفِكْرِ
Menjaga hati dari lintasan pikiran yang buruk

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Qasidah: Maa Lil Fuadi Yafidhu Bil Akdar

Kalam Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad Radhiyallahu'anhu: إِنَّ الرَّحْمَةَ تَنْزِلُ عِنْدَ إِنْشَادِ قَصِيْدَتِنَا: ( مَا لِلْفُؤَادِ يَفِيْضُ بِالْأَكْدَارِ ) "Sesungguhnya rahmat (Allah) turun saat dilantunkannya kasidah kami: (Mengapa hati ini meluap dengan kegelisahan/duka) ." ​ وَقَالَ بَعْضُهُمْ: حَصَلَ عَلَيَّ هَمٌّ فَسَمِعْتُ هٰذِهِ الْقَصِيْدَةَ فَزَالَ عَنِّي مَا كُنْتُ أَجِدُهُ فِي الْحَالِ "Sebagian orang berkata: 'Pernah suatu ketika aku tertimpa kegundahan hati, lalu aku mendengarkan kasidah ini, maka seketika itu juga hilanglah apa yang aku rasakan'." اَلْقَصِيْدَةُ: مَا لِلْفُؤَادِ يَفِيْضُ بِالْأَكْدَارِ Qasidah: Maa Lil Fuadi Yafidhu Bil Akdar مَا لِلْفُؤَادِ يَفِيْضُ بِالْأَكْدَارِ ... فَكَأَنَّ فِيْهِ تَلَهُّبًا مِنْ نَارِ (Mengapa hati ini meluap dengan kegundahan, seolah-olah di dalamnya ada api yang berkobar?) وَلِمُقْلَةٍ عَبْرَى تَفِيْضُ دُمُوْعُهَا ... سَحًّا كَفَيْضِ الْوَابِلِ الْمِدْرَارِ (Dan bagi mata ini, air matanya ...

Surat Takziyah Atas Meninggalnya Al-Habib Umar bin Salim Al-Haddad Radhiyallahu'anhu

  Surat Takziyah Atas Meninggalnya Al-Habib Umar bin Salim Al-Haddad Radhiyallahu'anhu. إِنَّ لِلهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ ​"Sesungguhnya milik Allah apa yang Dia ambil dan milik-Nya apa yang Dia beri, dan segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ajal yang telah ditentukan, maka bersabarlah dan berharaplah pahala." فَبِقَلْبٍ مُلْتَاعٍ وَنَفْسٍ مَحْزُونَةٍ، تَلَقَّيْنَا خَبَرَ وَفَاةِ الحَبِيبِ عُمَرَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى مِنْ آلِ بَاعَلَوِي وَزُهَّادِهَا وَدُعَاتِهَا. لَقَدْ كَانَ رَحِمَهُ اللهُ مِثَالًا لِلصَّالِحِينَ، دَاعِيًا إِلَى اللهِ بِالحِكْمَةِ وَالمَوْعِظَةِ الحَسَنَةِ، ثَابِتًا عَلَى مَنْهَجِ السَّلَفِ، رَحْمَةً لِلْخَلْقِ، وَسَبَبًا لِانْتِشَارِ الخَيْرِ فِي رُبُوعٍ كَثِيرَةٍ. ​وَبِارْتِحَالِهِ فَقَدَتِ الأُمَّةُ عَلَمًا مِنْ أَعْلَامِ الهِدَايَةِ، وَخَسِرَتْ رَجُلًا صَالِحًا كَثِيرَ الدُّعَاءِ وَالنَّفْعِ. نَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنْ يَتَغَمَّدَهُ بِوَاسِعِ رَحْمَةٍ، وَأَنْ يَرْفَعَه...

Sholawat Khotim 'Ala Nabiyyil Khotim

‎Syaikh Ibnu Abidin dalam kitab Tsabatnya memuat satu Shalawat yang dirangkai oleh : ‎الْوَلِيُّ الشَّهِيْرُ، وَالْقُطْبُ الْكَبِيْرُ، السَّيِّدُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَلِيّ بَإِحْسَيْنِ السَّقَّافُ ‎​ ‎​"Wali yang masyhur (terkenal) dan Quthub (pemimpin spiritual/sumbu para wali) yang besar, Sayyid Abdullah bin Ali Bahusain As-Saqqaf." ‎ ‎Syaikh ibnu Abidin berkata: "Aku membaca di salah satu Majmuk Kalam  ‎(kumpulan ucapan para Ulama) bahwa Shalawat itu judulnya adalah ‎ ‎صَلَوَاتُ الْخِتَامِ عَلَى النَّبِيِّ الْخِتَامِ ‎​[Sholawat penutup bagi Nabi penutup (para nabi dan rasul)] ‎ ‎Muallif Shalawat itu (yakni As-Sayyid Abdullah bin Ali Bahusain As-Sagaf) berkata: "Rasulullah Shalallahu 'Alaihi WA Sallam memberi garansi kepadaku,   ‎bagi siapa saja yang membacanya, bahkan yang hanya melihat tulisannya saja akan diwafatkan dalam keadaan Khusnul  khotimah. Dan di akhirat akan meraih Syafaah Kubro dari beliau Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. ‎ ...