Membandingkan antara thareqat itu sangat berbahaya. Dan lebih berbahaya lagi adalah membandingkan antara para wali.
Kita tidak menerima hal itu, murid yang menyombongkan thareqatnya itu adalah melakukan kesalahan & tidak sadar bahwa yang dilakukannya itu merupakan perbuatan yang buruk pada gurunya sendiri; karena banyak wirid ataupun Syekh thareqat lain telah mengambil thareqat ataupun wirid itu langsung dari Sayyidina Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, jadi keistimewaan itu tidak hanya untuk gurunya, tetapi merupakan anugerah luas yang diberikan ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala, jadi jangan mempersempit anugerah ALLAH Ta’ala.
Kita mendengar ada yang mengatakan bahwa syekh thareqatnya adalah; 'penutup para wali' itu maksudnya di masa itu, bukan secara mutlak; karena para wali itu tetap terus ada di setiap tempat dan masa. Setiap ada wali yang meninggal maka ada wali pengganti, jumlah mereka selalu 124.000 sejumlah 'ruhaniah' para Nabi.
Jadi jangan membandingkan antara para wali dan thareqat. Ikuti adab dan thareqatmu, jangan menyombongkan thareqatmu; karena perbandingan antara thareqat dan orang-orang itu memerlukan wahyu, sementara kita tidak dapat wahyu, Sayyiduna Nabi yang diberi wahyu, jadi hanya Nabi lah yang bisa membandingkan dengan ilmu dari ALLAH Ta’ala, sementara kamu membandingkan dengan perkiraan saja, jadi tidak boleh.
Jadi wajib mengikuti Syeikhmu & menghormati semua masyayikh, jangan membandingkan mereka; Syeikhmu merupakan rezqimu, barengsiapa qana'ah dengan rezqinya yang diberikan ALLAH Ta’ala maka dia akan menjadi orang yang paling merasa cukup, ALLAH Ta’ala membuatmu cukup dengan gurumu ini.
Sementara menghina saudaramu atau bersombong di depannya dengan kehebatan gurumu dan membandingkan dengan guru lain; ini merupakan metode yang dungu & bodoh yang membuat sebagian orang tidak menyukai tashawuf dan para sufi.
Kita diperintahkan untuk menghormati semua umat Sayyiduna Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan menghormati semua thareqat dan para wali.
Apabila kamu ditanya: siapakah wali itu? Kamu jawab dan katakan: "Semua umat Sayyiduna Nabi adalah wali kecuali aku". Itu jawaban yang benar.
Apabila kamu ditanya: "Siapa yang paling buruk dalam umat Sayyiduna Nabi? Kamu jawab dan katakan: "Akulah yang paling buruk, semoga ALLAH Ta’ala Meliputiku dengan rahmat-Nya."
Sementara yang berbicara tentang dirinya & memuji dirinya, maka ALLAH Ta’ala berfirman padanya:
فَلَا تُزَكُّوۤا۟ أَنفُسَكُمۡۖ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰۤ
Maka janganlah kamu, menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. [Surat An-Najm: 32]
ٱنظُرۡ كَیۡفَ یَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۖ وَكَفَىٰ بِهِۦۤ إِثۡمࣰا مُّبِینًا
Perhatikanlah, betapa mereka mengada-adakan kebohongan terhadap ALLAH? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka). [Surat An-Nisa': 50]
Memuji dirimu dan orang lain tanpa ilmu itu merupakan kedustaan dan mengada-ngada, jangan sampai kalian lakukan.
Tidak masalah untuk qana'ah pada gurumu dan meyakini kalau beliau punya keistimewaan dan kedudukan yang tinggi, tapi jangan sampai kamu membandingkannya dengan yang lain; karena ALLAH Ta’ala Menjadikan gurumu ini bagimu bagaikan ayahmu, maka qana'ah lah, berinteraksilah dan ambillah manfaat dari beliau; sehingga ALLAH Ta’ala Mengangkat pada kedudukan yang dikehendaki-Nya, setiap orang menggapai taqdirnya; karena semangat yang tinggi tidak menembus dinding taqdir. Jadi setiap orang punya maqam tertentu di sisi ALLAH Ta’ala .
Kita meyakini kebaikan dan keistimewaan pada semua thareqat dan semua ahlillah, kita membacakan al-Fatihah untuk niat mendapatkan manfaat dari semua mereka.
Sumber: Ustadzah Hilma Rosyida Ahmad
Komentar
Posting Komentar